Perlu Dibaca Sebelum Membaca Artikel

Sejak awal sebelum blog ini saya buat saya menyadari akan banyak menimbulkan kontroversi dan polemik tentang materi dan content yang ada didalamnya, karena banyak kalangan yang pasti akan mengklaim bahwa blog ini menyebarkan dan memprogandakan ajaran yang berbau bid’ah, khurafat, musyrik, syirik yang bertentangan dengan Al-qur’an, Al hadist dan Sunnah Rasul. Perlu saya sampaikan disini bahwa saya juga seorang muslim yang mengakui rukun Iman maupun rukun Islam, Saya juga berpegang berpedoman pada Al-qur’an, Al hadist dan Sunah Rasul, Saya juga melaksanakan Ibadah Sholat Wajib, Sholat Sunnah, Puasa Ramadhan, Puasa Sunah Senin-Kamis dll, Setiap akhir Ramadhon saya juga selalu membayar Zakat, Infak dan Shodaqoh dan Insya Allah kalo diberikan kelebihan Rizki akan melaksanakan ibadah Haji sebagaimana yang dilaksanakan oleh kaum muslimin lainnya. Saya hanyalah hamba Allah yang dhohir penuh dengan kebodohan dan ketidaktahuan, karenanya setiap masukan sumbang saran, pertanyaan, kritik dan komentar selalu saya nantikan, dan Insya Allah akan saya respon degan sebaik mungkin sebatas pengetahuan yang saya miliki. "Semua Isi Conten di Blog Ini Hanyalah Wacana Pengetahuan"

Syekh Siti Jenar

| Kamis, 02 Desember 2010 | |
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial
terkait dengan konsepnya tentang hidup dan
mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat
berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar
memandang bahwa kehidupan manusia di dunia
ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa
yang disebut umum sebagai kematian justru
disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki
dan abadi.
Mau tahu selanjutnya tentang Syekh Siti Jenar,
silahkan baca selanjutnya.....
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum
yang bersifat keduniawian (hukum negara dan
lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum
syariat peribadatan sebagaimana ketentuan
syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang
memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia
di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam
yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat
dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku
sesudah manusia menjalani kehidupan paska
kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat
bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam
budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan
oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan
konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum
mati pada awal sejarah perkembangan Islam
sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang
berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan
Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus
dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan
menjalankan hukum-hukum agama spt sholat,
zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-
amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan
hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari
manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan;
dan 4. Ma'rifat, kecintaan kepada Allah dengan
makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa
setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut
maka tahapan dibawahnya ditiadakan.
Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti
oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu
tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar.
Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati
ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para
ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman
dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh
Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam
dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus
disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'.
Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki
tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada Allah
(kecintaan dan pengetahuan yang mendalam
kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang
disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat
dibendung dengan kata 'SESAT'. Dalam
pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila
harus berdebat masalah agama. Alasannya
sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap
pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha
Kuasa. Hanya saja masing - masing menyembah
dengan menyebut nama yang berbeda - beda
dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum
tentu sama. Oleh karena itu, masing - masing
pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk
mendapat pengakuan bahwa agamanya yang
paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan
agar seseorang dapat lebih mengutamakan
prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang
yang beribadah dengan mengharapkan surga
atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat
bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut
dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula
Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya
Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa
Sang Pencipta adalah tempat kembali semua
makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya,
manusia telah menjadi bersatu dengan
Tuhannya.Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling
Kawula Gusti' adalah bahwa di dalam diri manusia
terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan
tentang penciptaan manusia ("Ketika Tuhanmu
berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku
akan menciptakan manusia dari tanah. Maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah
kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya
(Shaad; 71-72)")>. Dengan demikian ruh manusia
akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan
penafsiran ayat Al Qur'an dari para murid Syekh
Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di
dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan,
yaitu polemik paham 'Manunggaling Kawula
Gusti'. Kisah Syekh Siti Jenar sampai sekarang
masih jadi misterius.... semuanya kembali pada
diri kita sendiri terhadap kisah Syekh Siti Jenar ..
terima kasih.

0 komentar:

Poskan Komentar

Yang Mau Ramal Jodoh Saya Persilahkan...!!